Para arkeolog di Israel telah menemukan peninggalan mengerikan dari dunia kuno: peluru selempang berusia 2.000 tahun yang bertuliskan perintah tumpul, “Pelajari pelajaranmu.” Penemuan yang dilakukan di reruntuhan kota kuno Hippos (Sussita) ini menawarkan gambaran langka tentang perang psikologis yang terjadi bahkan di zaman kuno.
Senjata Dengan Pesan
Proyektil timah, kemungkinan besar digunakan selama pengepungan atau pertempuran kecil di sekitar Kuda Nil, dicetak dalam cetakan bertuliskan tulisan Yunani ΜΑΘΟΥ – sebuah perintah langsung yang berarti “belajar.” Meskipun peluru selempang sendiri merupakan temuan arkeologis yang umum, ini adalah contoh pertama yang diketahui membawa pesan sinis.
Mengapa ini penting: Peluru selempang bukan sekadar amunisi; senjata-senjata itu murah dan dapat diproduksi secara massal yang dapat digunakan dengan cepat dalam konflik. Prasasti tersebut menunjukkan bahwa para pembela Kuda Nil tidak hanya bertujuan untuk membunuh atau melukai, tetapi juga untuk melemahkan semangat musuh-musuh mereka dengan ejekan yang disampaikan di tengah pertempuran. Hal ini menunjukkan bahwa peperangan di zaman dahulu tidak selalu menggunakan kekerasan, namun juga manipulasi psikologis.
Kuda nil dan Dekapolis
Kuda nil adalah bagian dari Dekapolis, sebuah liga yang terdiri dari sepuluh kota Helenistik dan Romawi di perbatasan timur Levant. Didirikan oleh penerus Alexander Agung, kota-kota ini bertindak sebagai penyangga terhadap ekspansi Parthia dari Timur Dekat. Peluru selempang ditemukan di sebuah pekuburan, menunjukkan bahwa peluru tersebut mungkin ditembakkan dari tembok kota ke arah penyerang yang berjalan di sepanjang jalan terdekat.
Konteks: Kota-kota Dekapolis merupakan pos terdepan yang strategis dan penting bagi kekuasaan Yunani dan Romawi. Mereka terus-menerus mendapat ancaman dari kerajaan tetangga, sehingga pertahanan menjadi prioritas. Penemuan peluru ini memperkuat gagasan bahwa kota-kota ini telah sangat siap menghadapi konflik – tidak hanya dengan bentengnya, namun juga dengan senjata yang dirancang untuk menyampaikan pesan yang jelas dan brutal.
Perang Selempang di Zaman Kuno
Peluru selempang ternyata sangat efektif. Seorang slinger yang terampil dapat mencapai target hingga jarak 300 meter dengan kekuatan mematikan. Pelurunya sendiri sering kali diukir dengan simbol, nama dewa, atau bahkan nama komandan seperti Julius Caesar, yang menunjukkan bahwa tentara mungkin percaya bahwa prasasti ini memberi mereka keuntungan dalam pertempuran.
Trennya: Menuliskan proyektil dengan pesan bukanlah hal yang aneh. Contoh lain termasuk peluru dengan tulisan “tangkap” atau “ambil rasa”, yang menunjukkan bahwa prajurit zaman dahulu sering menggunakan taktik psikologis selain persenjataan fisik.
Penemuan terbaru ini adalah salah satu dari 69 peluru selempang timah yang ditemukan di Hippos selama 26 tahun penggalian, meskipun tetap menjadi yang pertama dengan sebuah prasasti. Kuda nil menyaksikan banyak konflik selama periode Helenistik, termasuk pertempuran dengan Seleukia pada tahun 199 SM. Peluru tersebut bisa saja digunakan dalam salah satu bentrokan ini.
“Ini mewakili humor sarkastik lokal dari para pembela kota, yang ingin memberi pelajaran kepada musuh mereka dengan sekejap,” kata arkeolog Michael Eisenberg.
Penemuan ini menggarisbawahi bahwa peperangan kuno tidak selalu mulia atau romantis; sering kali brutal, praktis, dan mengandung humor gelap. Peluru selempang berfungsi sebagai pengingat yang suram bahwa bahkan 2.000 tahun yang lalu, tentara menggunakan taktik psikologis untuk mengintimidasi dan menurunkan moral musuh mereka.































