Mars Menstabilkan Iklim Bumi Lebih Dari Yang Diperkirakan Sebelumnya

9

Penelitian baru mengungkapkan bahwa Mars memainkan peran yang sangat penting dalam mengatur iklim jangka panjang bumi, mempengaruhi siklus yang berlangsung ratusan ribu hingga jutaan tahun. Meskipun Venus dan Jupiter mendominasi dinamika orbit Bumi, simulasi menunjukkan bahwa hilangnya Mars dari tata surya akan mengganggu pola iklim utama. Penemuan ini mengubah pemahaman kita tentang stabilitas planet, dan menunjukkan bahwa keberadaan planet luar yang stabil—seperti Mars—mungkin lebih umum terjadi daripada perkiraan sebelumnya, sehingga berpotensi meningkatkan kemungkinan menemukan planet ekstrasurya yang layak huni di tempat lain di galaksi.

Peran Mars yang Tak Terduga

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah memahami bahwa iklim bumi dibentuk oleh siklus Milankovitch—variasi jangka panjang pada orbit dan kemiringan bumi yang didorong oleh tarikan gravitasi planet lain. Venus dan Yupiter memberikan pengaruh yang paling kuat, namun pengaruh Mars dianggap minimal. Simulasi terbaru yang dipimpin oleh Stephen Kane dari University of California, Riverside, menantang asumsi ini.

Tim tersebut menjalankan model tata surya secara rinci, secara sistematis menguji pengaruh setiap planet terhadap orbit dan kemiringan sumbu bumi. Hasilnya sangat mengejutkan: menghilangkan Mars dari simulasi menghilangkan dua siklus Milankovitch yang penting dengan periode 100.000 dan 2,4 juta tahun.

“Saat Anda menghapus Mars, siklus tersebut akan hilang,” kata Kane. “Dan jika Anda menambah massa Mars, maka ukurannya akan semakin pendek karena Mars mempunyai efek yang lebih besar.”

Hal ini menunjukkan bahwa Mars “melebihi bobotnya”, memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas iklim Bumi.

Bagaimana Mars Menstabilkan Kemiringan Bumi

Kemiringan atau kemiringan sumbu bumi bervariasi antara 21,5 dan 24,5 derajat setiap 41.000 tahun, sehingga berdampak pada intensitas musiman dan pola iklim jangka panjang. Meskipun bulan telah lama dianggap sebagai penstabil utama kemiringan bumi, simulasi menunjukkan bahwa gravitasi Mars juga memberikan kontribusi yang signifikan. Peningkatan massa Mars dalam simulasi semakin menstabilkan kemiringan bumi, menunjukkan bahwa planet luar yang lebih besar dapat meningkatkan stabilitas orbit.

Temuan ini penting karena berpotensi menurunkan standar planet ekstrasurya yang layak huni. Sebuah planet tidak selalu membutuhkan bulan yang besar untuk mempertahankan kemiringannya yang stabil—planet luar yang berukuran sedang seperti Mars mungkin sudah cukup. Hal ini memperluas kriteria pencarian planet mirip Bumi di luar tata surya kita.

Siklus Milankovitch dan Iklim Jangka Panjang

Siklus Milankovitch mengontrol variasi kemiringan sumbu bumi, eksentrisitas orbit (seberapa elips orbitnya), dan presesi ekuinoks. Siklus ini memicu zaman es dan periode hangat dalam rentang waktu geologis.

Siklus 430.000 tahun yang didorong oleh Venus dan Jupiter tetap tidak terpengaruh oleh kehadiran Mars. Namun, dua siklus lainnya—siklus yang hilang ketika Mars hilang—sangat penting untuk pengaturan iklim jangka panjang.

Penting untuk dicatat bahwa siklus ini terjadi selama ribuan tahun dan tidak ada hubungannya dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia saat ini. Siklus Milankovitch membentuk iklim bumi dalam rentang waktu geologis, sehingga memastikan bahwa zaman es tidak berlangsung selamanya.

Implikasi terhadap Penelitian Exoplanet

Penemuan bahwa Mars menstabilkan iklim Bumi berimplikasi pada pencarian planet ekstrasurya yang layak huni. Para astronom sekarang harus mempertimbangkan keberadaan planet luar yang stabil sebagai faktor kunci ketika menilai sistem planet.

“Ketika saya melihat sistem planet lain dan menemukan sebuah planet seukuran Bumi di zona layak huni, planet-planet yang terletak lebih jauh dalam sistem tersebut dapat berdampak pada iklim planet mirip Bumi tersebut,” jelas Kane.

Keberadaan Mars menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana jadinya iklim bumi tanpa adanya Mars, dan apakah kehidupan kompleks dapat berevolusi dalam kondisi seperti itu.

Pada akhirnya, penelitian ini menyoroti keterhubungan sistem planet dan menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan interaksi gravitasi ketika mengevaluasi kelayakhunian sebuah planet ekstrasurya.