Thomas Milton Rivers tidak pernah menyuntik satu pasien pun dengan vaksin polio. Dia tidak menumbuhkan virus di laboratorium untuk Salk atau Sabin. Namun tanpa kerangka organisasinya, upaya untuk menyembuhkan polio kemungkinan besar akan terhenti pada tahun 1930an. Lahir di Jonesboro, Georgia, pada tahun 1888, dan meninggal di New York pada tahun 1962, Rivers adalah ahli virologi Amerika yang memahami bahwa melawan musuh mikroskopis memerlukan lebih dari sekadar tebakan keberuntungan. Untuk itu diperlukan struktur.
Dia melihat apa yang orang lain lewatkan. Di awal karirnya, Rivers berpendapat bahwa virus adalah entitas biologis yang berbeda, bukan sekadar kontaminan yang samar-samar. Dia menyebut mereka “parasit obligat”, dan menyatakan bahwa mereka tidak dapat bertahan hidup atau bereproduksi tanpa jaringan hidup. Wawasan ini sangat penting. Artinya, Anda tidak bisa begitu saja mempelajari virus dalam cawan petri yang berisi air gula. Anda membutuhkan sel.
Bagaimana Rivers membuka jalan bagi penelitian polio
Rivers menjadi ketua komite penelitian virus untuk Yayasan Nasional untuk Kelumpuhan Infantil pada tahun 1938. Organisasi tersebut sekarang menjadi March of Dimes. Selama masa jabatannya yang berlangsung hingga tahun 1955, ia merancang program penelitian jangka panjang yang akhirnya menghasilkan vaksin Salk dan Sabin.
Mengapa ini penting? Sebelum Rivers, virologi terfragmentasi. Para ilmuwan bekerja dalam silo. Sungai menghubungkan titik-titik itu. Ia memahami bahwa untuk mengalahkan polio, diperlukan upaya yang terkoordinasi, bukan eksperimen yang tersebar.
Mengapa hasil kultur jaringannya mengubah virologi
Sebelum Rivers, mempelajari virus adalah mimpi buruk. Kebanyakan virus membutuhkan jaringan manusia yang spesifik untuk tumbuh, dan sulit untuk mendapatkan jaringan tersebut. Pada tahun 1931, saat bekerja di Rockefeller Institute for Medical Research di New York City, Rivers mengembangkan metode kultur jaringan untuk virus vaccinia.
Ini bukan hanya perubahan teknis. Itu adalah sebuah yayasan.
“Parasit wajib”
Definisinya tentang virus sebagai organisme yang bergantung pada jaringan hidup untuk pertumbuhannya memungkinkan pekerjaan laboratorium dapat direproduksi. Teknik kultur jaringan khusus ini kemudian menjadi dasar pengembangan vaksin anti demam kuning di Afrika Selatan oleh Max Theiler. Tanpa landasan awal tersebut, terobosan Theiler mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun lebih lama, atau gagal total.
Di mana Rivers bekerja dan apa yang dia pelajari
Kariernya berpindah melalui institusi-institusi penting yang membentuk pengobatan modern:
- Sekolah Kedokteran Universitas Johns Hopkins, Baltimore : Lulus pada tahun 1915.
- Institut Penelitian Medis Rockefeller, Kota New York : Anggota dari tahun 1922 hingga 1937.
- Rumah sakit yang berafiliasi dengan institut, New York : Direktur dari tahun 1937 hingga 1955.
Selama menjabat sebagai direktur rumah sakit, ia meneliti virus penyebab influenza dan cacar air. Karyanya mengenai influenza membantu meletakkan dasar untuk memahami bagaimana virus pernapasan berperilaku dalam sistem tubuh manusia.
Peran manakah yang memberikan dampak terbesar?
Sangat mudah untuk menunjuk pada nama Salk atau Sabin pada botol vaksin. Tapi Rivers adalah ahli strateginya. Dia menjabat sebagai wakil presiden urusan medis di National Foundation pada tahun 1955. Dia tidak hanya mendanai penelitian; dia mengarahkannya. Dia mengidentifikasi pertanyaan mana yang paling penting. Ia memastikan bahwa uang dan bakat disalurkan untuk memecahkan masalah polio, bukan sekadar keingintahuan umum.
Telah melakukan

























