Asteroid Berputar Cepat Menantang Model Pembentukan Tata Surya yang Ada

14

Pengamatan baru dari Observatorium Vera C. Rubin memaksa para ilmuwan memikirkan kembali bagaimana asteroid terbentuk dan bertahan hidup di Tata Surya. Teleskop tersebut, bahkan dalam tahap pra-survei, telah mendeteksi beberapa asteroid yang berputar dengan kecepatan yang sebelumnya dianggap mustahil, bertentangan dengan teori yang sudah ada selama beberapa dekade.

Kecepatan Putaran Tak Terduga

Temuan paling mencolok adalah asteroid 2025 MN45, objek berukuran 710 meter (2.330 kaki) di Sabuk Utama antara Mars dan Jupiter. Ia menyelesaikan satu rotasi penuh hanya dalam 1,88 menit – jauh lebih cepat dari batas 2,2 jam yang mana asteroid harus hancur akibat gaya sentrifugal.

Ini bukanlah kasus yang terisolasi. Observatorium Rubin mengidentifikasi 18 asteroid tambahan yang berputar dengan kecepatan sama tinggi, menunjukkan bahwa asteroid tersebut mungkin jauh lebih kuat dari perkiraan sebelumnya. Hal ini penting karena model yang ada mengasumsikan sebagian besar asteroid merupakan “tumpukan puing” yang terikat secara longgar – kumpulan batu dan debu yang disatukan oleh gravitasi lemah. Jika benar, asteroid semacam itu tidak akan mampu bertahan dalam perputaran cepat.

Mengapa Ini Penting

Selama beberapa dekade, para astronom percaya bahwa penghalang putaran 2,2 jam adalah batas yang sulit. Teori tersebut, yang diuji pada tahun 1990an dan dikonfirmasi pada tahun 2000, menyatakan bahwa rotasi yang lebih cepat akan menghancurkan sebagian besar asteroid. Temuan baru ini menantang asumsi tersebut, dengan menyiratkan bahwa banyak asteroid mungkin tersusun dari material yang lebih padat dan lebih kohesif seperti batuan padat.

Hal ini memiliki implikasi besar bagi pemahaman kita tentang awal Tata Surya. Asteroid yang berputar cepat ini mungkin merupakan sisa-sisa tabrakan dahsyat yang terjadi selama fase awal kekacauan, sehingga mempertahankan struktur internal yang sebagian besar asteroid hilang seiring berjalannya waktu. Dengan kata lain, mereka seperti kapsul waktu dari kelahiran Tata Surya, menawarkan gambaran sekilas tentang masa lalu tata surya yang penuh gejolak.

Peran Observatorium Rubin

Kemampuan Observatorium Rubin untuk membuat katalog asteroid dengan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah kuncinya. Kampanye pengamatan baru-baru ini, yang dilakukan selama sembilan malam pada bulan April-Mei 2025, menganalisis lebih dari 340.000 asteroid, mengukur 76 putaran asteroid. Sembilan belas di antaranya menantang penghalang putaran, termasuk tiga yang berputar dalam waktu kurang dari lima menit.

Data menunjukkan bahwa sejumlah besar asteroid Sabuk Utama memiliki kepadatan dan integritas struktural yang tinggi. Peneliti utama, Sarah Greenstreet, mencatat bahwa MN45 2025 “harus terbuat dari bahan yang memiliki kekuatan sangat tinggi agar tetap utuh saat berputar begitu cepat.”

Implikasi di Masa Depan

Temuan ini akan menyempurnakan pemahaman kita tentang komposisi dan evolusi asteroid. Mereka juga mendukung misi masa depan seperti Lucy milik NASA, yang akan mempelajari asteroid dari dekat. Penemuan ini menggarisbawahi potensi Observatorium Rubin untuk secara radikal mengubah pengetahuan kita tentang unsur-unsur dasar Tata Surya.

Prevalensi asteroid yang sangat tahan lama ini menunjukkan bahwa model yang ada saat ini mungkin meremehkan jumlah asteroid padat dan berdensitas tinggi di Sabuk Utama. Data ini tidak hanya akan menulis ulang buku teks tetapi juga mengubah cara kita mendekati eksplorasi asteroid dan menilai potensi risiko dari benda-benda dekat Bumi.