Para peneliti di Rice University telah mengembangkan bahan filtrasi baru yang mampu menyerap PFAS (“bahan kimia selamanya”) yang berbahaya dengan kecepatan 100 kali lebih cepat dibandingkan teknologi yang ada. Perkembangan tersebut, yang dirinci dalam studi baru yang ditinjau oleh rekan sejawat, juga menguraikan proses penghancuran non-termal yang pada akhirnya dapat menawarkan solusi yang layak untuk menghilangkan polutan yang persisten ini, meskipun peningkatan produksi masih merupakan hambatan yang signifikan.
Masalah dengan PFAS: Mengapa Ini Penting
PFAS, atau zat per dan polifluoroalkil, adalah sekelompok lebih dari 16.000 senyawa yang ditemukan dalam produk sehari-hari mulai dari peralatan masak anti lengket hingga busa pemadam kebakaran. Bahan kimia ini dijuluki “bahan kimia selamanya” karena tidak terurai secara alami dan terakumulasi di lingkungan dan tubuh manusia. Paparan PFAS telah dikaitkan dengan masalah kesehatan yang parah, termasuk kanker, gangguan kekebalan, dan cacat lahir.
Tantangannya adalah metode penyaringan saat ini hanya menangkap PFAS, sehingga memerlukan penyimpanan limbah yang mahal dan berbahaya atau penghancuran termal yang tidak efisien yang sering kali menghasilkan produk sampingan beracun. Belum ada metode skala industri yang dapat sepenuhnya menghancurkan bahan kimia ini.
Cara Kerja Teknologi Baru: Penyerapan Tembaga yang Ditingkatkan
Tim Rice University menciptakan bahan berlapis hidroksida ganda (LDH) yang terdiri dari tembaga dan aluminium. Bahan ini bekerja melalui tarikan elektrostatis: LDH bermuatan positif dengan cepat menyerap molekul PFAS bermuatan negatif.
“Ini dia – bahan ini menyerap hingga 100 kali lebih cepat dibandingkan bahan lain yang ada di luar sana,” kata Michael Wong, direktur Rice’s Water Institute.
Yang terpenting, tingkat penyerapannya sangat tinggi sehingga PFAS pekat kemudian dapat dihancurkan menggunakan proses suhu yang relatif rendah (400-500C). Fluorida terperangkap dan terikat dengan kalsium, sehingga menghasilkan produk sampingan yang aman dan cocok untuk pembuangan TPA.
Jalan Menuju Implementasi: Potensi Drop-In
Apa yang membedakannya dari sistem penghapusan PFAS lain yang sedang berkembang adalah potensi integrasinya yang lancar. Bahan ini dirancang sebagai solusi “drop-in”, yang berarti dapat disesuaikan dengan infrastruktur filtrasi yang ada, sehingga mengurangi biaya dan hambatan implementasi. Penelitian menunjukkan bahwa bahan tersebut dapat bekerja pada berbagai senyawa PFAS, terutama yang bermuatan negatif.
Menskalakan Tantangan dan Perhatian Pakar
Meski menjanjikan, penerapan industri menghadapi hambatan. Laura Orlando, peneliti PFAS di organisasi nirlaba Just Zero, tetap optimis. Dia menyoroti kompleksitas kondisi dunia nyata, termasuk keselamatan kerja, persyaratan perizinan, dan kesulitan yang melekat dalam meningkatkan teknologi lingkungan baru.
“Kita akan membutuhkan sebanyak mungkin teknologi yang bisa kita temukan untuk mengatasi Pfas dalam air minum, dan jika teknologi ini berhasil mengurangi skala air limbah, maka hal ini akan menjadi sesuatu yang perlu diperhatikan,” kata Orlando.
Inovasi Rice University mewakili langkah maju yang signifikan dalam perjuangan melawan polusi PFAS. Meskipun tantangannya masih ada, kombinasi antara penyerapan yang cepat dan penghancuran yang efisien menawarkan jalan yang kredibel untuk menghilangkan “bahan kimia selamanya” ini dari pasokan air kita.































