Genom Badak Berbulu Mengungkap Populasi Stabil Sebelum Kepunahan

16
Genom Badak Berbulu Mengungkap Populasi Stabil Sebelum Kepunahan

Penelitian genom baru pada spesimen badak berbulu berusia 14.400 tahun menantang asumsi bahwa perkawinan sedarah yang cepat menyebabkan spesies tersebut menuju kepunahan. Analisis yang diterbitkan dalam Genome Biology and Evolution menunjukkan bahwa populasi badak tetap stabil secara genetik selama ribuan tahun sebelum punah, tanpa ada tanda-tanda jelas penurunan keragaman genetik sebelum kepunahan. Temuan ini penting karena merujuk pada perubahan iklim, bukan perburuan manusia atau kelemahan genetik internal, sebagai penyebab utama kematian badak berbulu.

Genom Badak Terakhir

Genom tersebut diekstraksi dari jaringan otot yang ditemukan di dalam perut anak anjing serigala yang sangat diawetkan yang ditemukan di lapisan es Siberia. Penanggalan radiokarbon mengonfirmasi bahwa kedua fosil tersebut berusia sekitar 14.400 tahun, menjadikannya salah satu spesimen badak berbulu terbaru yang pernah dianalisis. Ini adalah pertama kalinya genom purba lengkap ditemukan dari seekor hewan di dalam sisa-sisa hewan lain, suatu prestasi yang unik dan menantang.

Populasi Stabil, Kepunahan Mendadak

Para peneliti membandingkan genom baru ini dengan dua genom badak berbulu Pleistosen Akhir yang diterbitkan sebelumnya. Hasilnya secara mengejutkan mengungkapkan hanya sedikit segmen DNA homozigot – area di mana gen identik akibat perkawinan sedarah baru-baru ini. Hal ini menunjukkan bahwa populasinya tidak mengalami hambatan genetik yang cepat sebelum punah, seperti yang terjadi pada banyak spesies yang terancam punah saat ini.

Sebaliknya, para peneliti tidak menemukan bukti menyusutnya ukuran populasi selama interstadial Bølling-Allerød, periode pemanasan yang cepat sekitar 14.700 tahun lalu. Hal ini menyiratkan bahwa kepunahan mungkin terjadi dengan sangat cepat – terlalu cepat untuk meninggalkan jejak genom yang dapat dideteksi – atau sebagai akibat dari perubahan lingkungan yang tiba-tiba.

Iklim, Bukan Manusia?

Studi ini mendukung hipotesis bahwa pemanasan iklim, bukan perburuan manusia, adalah penyebab utama kepunahan badak berbulu. Spesies ini bertahan setidaknya selama 15.000 tahun bersama populasi manusia purba di timur laut Siberia tanpa menunjukkan kerusakan genetik. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak memberikan dampak signifikan terhadap ukuran populasi badak hingga akhir.

“Hasil kami menunjukkan bahwa badak berbulu memiliki populasi yang mampu bertahan selama 15.000 tahun setelah manusia pertama tiba di timur laut Siberia. Hal ini menunjukkan bahwa pemanasan iklim, bukan perburuan manusia, yang menyebabkan kepunahan,” kata Profesor Love Dalén, salah satu penulis studi tersebut.

Temuan ini menyoroti pentingnya memeriksa data genom dari individu yang hampir punah untuk memahami penyebab sebenarnya dari hilangnya spesies, sehingga memberikan wawasan berharga bagi upaya konservasi modern. Kisah badak berbulu menunjukkan bahwa populasi badak berbulu sekalipun dapat punah dengan cepat akibat tekanan lingkungan yang ekstrem.