Mengapa Albedo 7% di Bulan Penting bagi Pasang Surut Bumi dan Eksplorasi di Masa Depan

5

Kami melihat ke langit malam dan melihat bola terang. Ini mendominasi pandangan kita, namun ternyata sangat redup. Permukaan Bulan hanya memantulkan 7% sinar matahari yang menerpanya. Albedo yang rendah membuatnya lebih gelap dibandingkan aspal yang sudah aus. Kami menganggapnya cemerlang hanya karena kontrasnya dengan kegelapan ruang angkasa. Trik visual ini menutupi fisika mentah dari tetangga terdekat kita.

Satu-satunya satelit alami bumi mengorbit pada jarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer. Jaraknya sekitar 238.900 mil. Dalam istilah kosmis, hal ini bisa dibilang bertetangga. Namun secara fisik, Bulan adalah versi yang lebih kecil dari planet induknya. Ukurannya kurang dari sepertiga ukuran bumi. Jari-jari khatulistiwanya hanya berukuran 1.738 kilometer. Dari segi massa, beratnya hanya sebagian kecil dari massa bumi, yaitu sekitar 1/81 dari total berat planet kita. Namun ternyata kepadatannya sangat tinggi, yaitu sekitar dua pertiga kepadatan bumi. Kepadatan ini menciptakan gravitasi permukaan yang hanya seperenam dari apa yang kita rasakan di sini. Melangkahlah ke regolit itu, dan Anda bisa melompati mobil.

Bagaimana Gravitasi Bulan Membentuk Planet Kita

Tarikan gravitasi itu bukan sekadar keingintahuan para astronot. Ini adalah mesin utama di balik pasang surutnya bumi. Tanpa tarikan Bulan, lautan kita akan jauh lebih tenang, dan kehidupan di darat mungkin terlihat sangat berbeda. Bulan berputar pada porosnya dalam 27,3 hari. Ini sama persis dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi Bumi. Rotasi sinkron ini berarti Bulan selalu menampilkan wajah yang sama kepada kita. Kita tidak pernah melihat “sisi gelap”, sebuah istilah yang keliru karena sisi tersebut mendapat banyak sinar matahari.

Wajah yang kita lihat berubah. Saat Bulan berputar, Matahari menyinarinya dari berbagai sudut. Hal ini menciptakan siklus fase yang lazim, dari bulan baru ke bulan purnama dan kembali lagi. Namun permukaannya sendiri sudah kuno dan penuh bekas luka. Kebanyakan astronom sepakat tentang kisah asal usul yang penuh kekerasan. Bulan kemungkinan besar terbentuk dari puing-puing yang terlempar ke orbit Bumi ketika sebuah benda seukuran Mars bertabrakan dengan proto-Bumi di awal sejarah tata surya. Hipotesis tumbukan raksasa ini menjelaskan komposisi Bulan dan isolasinya dari inti Bumi.

Sejarah yang Tertulis di Kawah dan Lava

Umat ​​manusia telah mempelajari Bulan selama berabad-abad. Galileo pertama kali mengarahkan teleskop ke sana pada tahun 1609, memperlihatkan pegunungan dan lembah. Ia membuktikan bahwa itu bukanlah bola langit yang sempurna. Dalam sebagian besar sejarah, hal tersebut adalah hal yang paling dekat dengan yang kita dapatkan. Kemudian muncullah program Apollo. Dua belas astronot AS berjalan di permukaan selama enam misi pendaratan yang sukses. Mereka membawa kembali batuan, sampel, dan data yang merevolusi ilmu pengetahuan planet.

Kekuatan dominan yang membentuk permukaan tersebut adalah tumbukan. Mikrometeorit membombardir Bulan terus-menerus, menghancurkan batuan menjadi debu halus. Meteorit yang lebih besar telah membuat kawah di seluruh lanskap. Bekas luka ini sebagian besar terbentuk lebih dari empat miliar tahun yang lalu, selama periode pemboman yang hebat. Diselingi dataran tinggi adalah maria. Ini adalah dataran luas dan gelap yang diciptakan oleh aliran lava kuno. Mereka mengisi cekungan yang ditinggalkan oleh dampak asteroid besar-besaran di masa lalu.

Mungkinkah Ada Air di Bulan?

Selama beberapa dekade, para ilmuwan mengira Bulan kering.